Semarak
bisa jadi lebih, tapi begini juga baik
semua syukur kuhaturkan
untuk lebih dan kurang yang dianugerahkan
sebab tanpanya
warna dunia seperti berkurang satu
Begitu campur aduk
pagi dan petang, dingin dan panas
membingungkan dan nyata
kadang malam juga terang sekali
padahal harusnya hening dan terpejam
tapi kalau hati sudah bertitah
manusia pun hanya raga yang kalah
Belum puas
semua hari dan tawa yang ada
selalu ingin mengulang dan abadi
tapi bukankah dunia tak begitu?
Seminggu
tujuh hari pun terpenggal sebagian
wajar saja, memang tak terencana
sedikit dari waktu yang kukenang
Kukatakan padanya
karena begitu mendesak untuk dialirkan
kalimat di dalam dada
tersimpan sejak saat pertama itu
Apalah aku tanpa semua cinta dan benci
emosi adalah tanda kehidupan
sementara jalan di hadapan
entah panjang, entah pendek
menunggu untuk dilalui
dan diisi dengan kesan demi kesan
Doa yang kupanjatkan
sekarang bertambah satu lagi
karena saat ini sudah tak ingin lagi kubiarkan
berlalu tanpa melihat ke masa depan
dan bila Dia bermurah hati
dengan kuasa dan ridha-Nya
maka dunia tak mungkin lebih indah lagi
*semua kesan dan emosi yang tertahan, untuk dia yang menunggu...