Mulai lagi dengan judul yang sama, kalau bukan lebih, tidak komersial dibanding judul yang sebelumnya. Ah, mengapa pula harus ditakar dengan ukuran komersial? Mari kita ukur dengan tema "hanya-ingin-menulis-tanpa-terkekang".
Setelah kemarin saya mulai bersih-bersih, ternyata malam harinya tim sepakbola Indonesia untuk SEA Games 2011 kalah. Apakah karena saya bersih-bersih sore hari sebelumnya? Silakan untuk yang mau posting analisis ala "kepakan sayap Charizard di Jepang menimbulkan badai Kamehameha di Kutub Utara" apabila berminat, saya sih malas membuatnya, hehehe.
Kembali ke SEA Games, saya mencoba membayangkan tentang keadaan beberapa wasit, atau ofisial, atau wartawan, atau penggembira pesta olahraga tersebut yang kedapatan jatah menginap di hotel terapung ala kapal perang atau kapal komersial Indonesia. Beritanya sendiri terhenti pada hari kesekian pelaksanaan SEA Games, dengan wasit dari sejumlah negara yang mengajukan protes dan keluar dari penginapan terapung tersebut. Kelanjutan beritanya? Percaya atau tidak, saya belum menemukan berita lanjutannya yang valid, mungkin sudah hilang karena kalah bersaing dengan pedas dan asamnya cuko pempek.
Sebagai pesta olahraga tingkat internasional dengan berbagai elemen yang datang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang budaya, tentunya ada kecemasan yang awalnya (seharusnya) muncul. Akankah panitia bisa berkomunikasi sesuai dengan bahasa masing-masing negara peserta? Apakah menu konsumsi yang disediakan bisa diterima dan sesuai dengan kebutuhan setiap atlet sehingga kondisi mereka prima saat berlaga? Apakah perlu disediakan tempat ibadah sesuai dengan agama masing-masing ataukah dipisah per negara? Apakah sebaiknya menggunakan toilet duduk atau jongkok? Apakah sebaiknya menggunakan gayung atau shower?
Saya tidak tahu, apakah perhitungan meleset atau justru malah belum dilakukan perhitungan yang matang, bila akhirnya muncul berita bahwa atlet Thailand hanya makan kerupuk karena kehabisan makanan, lalu beberapa orang wasit protes dan keluar dari kapal yang disediakan sebagai tempat mereka menginap selama pelaksanaan SEA Games, atau beberapa venue yang sampai H-1 masih dipoles-poles, disemen-semen, atau sudah retak-retak.
Saya tidak tahu, apakah perhitungan meleset atau justru malah belum dilakukan perhitungan yang matang, bila akhirnya muncul berita bahwa atlet Thailand hanya makan kerupuk karena kehabisan makanan, lalu beberapa orang wasit protes dan keluar dari kapal yang disediakan sebagai tempat mereka menginap selama pelaksanaan SEA Games, atau beberapa venue yang sampai H-1 masih dipoles-poles, disemen-semen, atau sudah retak-retak.
Saya rasa, terlepas dari kontingen Indonesia yang telah selamat menjadi juara umum, terlepas dari penyelenggaraan yang dikatakan berhasil dan cukup baik, perlu ada langkah hukum dan politis yang jelas dan memuaskan untuk berbagai kasus tersebut. Bukan sekedar untuk mencari siapa sebenarnya sang pengacau, namun juga demi mereka yang telah rela Mardingin Dingin Sibasah alias berdingin-dingin setiap malam dan berbasah-basah setiap hujan (bahasa ngawur karangan saya sendiri) demi menyukseskan pelaksanaan pesta olahraga akbar tersebut.
Siapa mereka?
Para petugas kebersihan dan penjaga keamanan, yang biasanya selalu kebagian jatah yang paling tidak enak pada setiap penyelenggaraan kegiatan semacam ini.
Tampak ngawur? Ah, berarti saya masih lanjut merajuk, dilarang protes, hehehehe...
Hahayzzz
BalasHapusTetep dibaca kok
wehehehe, ada yang berbaik hati membaca, matur nuwun cak no
BalasHapusSami-sami..
BalasHapusAku kan setia jar..hahayzzz