Rabu, 30 November 2011

Berdua menjalani hidup


Yogyakarta - 2008

Sekedar dokumentasi perjalanan dua hati ^o^

Selamanya anak kecil?

"Mamaaa.....kakak nakal, aku dicubit....huwaaaa.......!!"

"Kakaaakk! Ayo sini, minta maaf ke adek.....Nah adek, tuh kakak udah minta maaf, baikan lagi yaa....cep cep, udah ah nangisnya..."

Saya sering mendengar percakapan antara seorang ibu dan anak-anaknya yang semacam itu. Masalahnya bisa bermacam-macam, namun hasil akhirnya biasanya sama, yaitu kedua belah pihak, baik yang mengusili ataupun yang diusili, diperintahkan untuk berbaikan kembali. Sang pengusil biasanya disuruh untuk meminta maaf, lalu yang diusili diperintahkan untuk memaafkan. Dunia anak-anak yang murni memungkinkan mereka untuk saling bermaafan dan kemudian bermain kembali, tanpa dendam atau omongan apapun di belakang.

Sekarang, seberapa sering kalimat semacam itu kita dengarkan (baik dari keluarga kita atau orang lain) dengan kondisi sang anak sudah dewasa dan orangtuanya sudah berusia lanjut? Atau kalau kita mendengarkannya sebagai pihak yang "mengusili" atau "diusili", seberapa mudah kita menuruti perintah atau anjuran untuk berbaikan? Sangat mudah, atau sangat sulit? Tanpa dendam, atau penuh dendam?

Kalau sudah dewasa, apakah kita sudah pasti benar?
Kalau sudah dewasa, apakah meminta maaf ataupun memaafkan tidak semudah saat kita masih anak-anak?
Kalau sudah dewasa, apakah masih tetap dibutuhkan perintah orangtua agar kita mau meminta maaf atau memaafkan?

Kalau jawaban dari ketiga hal tersebut adalah "YA", apakah kita benar-benar bisa menyebut diri kita sebagai orang dewasa?

Sebaliknya, kalau jawaban dari ketiga hal tersebut adalah "TIDAK", apakah kita sudah menerapkannya dalam kehidupan kita?

Apa bedanya orang dewasa dengan anak kecil? Mungkin jawabannya adalah: beda usia saja.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Selasa, 22 November 2011

Mardingin Dingin Sibasah

Mulai lagi dengan judul yang sama, kalau bukan lebih, tidak komersial dibanding judul yang sebelumnya. Ah, mengapa pula harus ditakar dengan ukuran komersial? Mari kita ukur dengan tema "hanya-ingin-menulis-tanpa-terkekang".

Setelah kemarin saya mulai bersih-bersih, ternyata malam harinya tim sepakbola Indonesia untuk SEA Games 2011 kalah. Apakah karena saya bersih-bersih sore hari sebelumnya? Silakan untuk yang mau posting analisis ala "kepakan sayap Charizard di Jepang menimbulkan badai Kamehameha di Kutub Utara" apabila berminat, saya sih malas membuatnya, hehehe.

Kembali ke SEA Games, saya mencoba membayangkan tentang keadaan beberapa wasit, atau ofisial, atau wartawan, atau penggembira pesta olahraga tersebut yang kedapatan jatah menginap di hotel terapung ala kapal perang atau kapal komersial Indonesia. Beritanya sendiri terhenti pada hari kesekian pelaksanaan SEA Games, dengan wasit dari sejumlah negara yang mengajukan protes dan keluar dari penginapan terapung tersebut. Kelanjutan beritanya? Percaya atau tidak, saya belum menemukan berita lanjutannya yang valid, mungkin sudah hilang karena kalah bersaing dengan pedas dan asamnya cuko pempek.

Sebagai pesta olahraga tingkat internasional dengan berbagai elemen yang datang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang budaya, tentunya ada kecemasan yang awalnya (seharusnya) muncul. Akankah panitia bisa berkomunikasi sesuai dengan bahasa masing-masing negara peserta? Apakah menu konsumsi yang disediakan bisa diterima dan sesuai dengan kebutuhan setiap atlet sehingga kondisi mereka prima saat berlaga? Apakah perlu disediakan tempat ibadah sesuai dengan agama masing-masing ataukah dipisah per negara? Apakah sebaiknya menggunakan toilet duduk atau jongkok? Apakah sebaiknya menggunakan gayung atau shower?

Saya tidak tahu, apakah perhitungan meleset atau justru malah belum dilakukan perhitungan yang matang, bila akhirnya muncul berita bahwa atlet Thailand hanya makan kerupuk karena kehabisan makanan, lalu beberapa orang wasit protes dan keluar dari kapal yang disediakan sebagai tempat mereka menginap selama pelaksanaan SEA Games, atau beberapa venue yang sampai H-1 masih dipoles-poles, disemen-semen, atau sudah retak-retak.

Saya rasa, terlepas dari kontingen Indonesia yang telah selamat menjadi juara umum, terlepas dari penyelenggaraan yang dikatakan berhasil dan cukup baik, perlu ada langkah hukum dan politis yang jelas dan memuaskan untuk berbagai kasus tersebut. Bukan sekedar untuk mencari siapa sebenarnya sang pengacau, namun juga demi mereka yang telah rela Mardingin Dingin Sibasah alias berdingin-dingin setiap malam dan berbasah-basah setiap hujan (bahasa ngawur karangan saya sendiri) demi menyukseskan pelaksanaan pesta olahraga akbar tersebut.

Siapa mereka?

Para petugas kebersihan dan penjaga keamanan, yang biasanya selalu kebagian jatah yang paling tidak enak pada setiap penyelenggaraan kegiatan semacam ini.

Tampak ngawur? Ah, berarti saya masih lanjut merajuk, dilarang protes, hehehehe...

Senin, 21 November 2011

Merajuk

Hai hai hai,

Ah, ternyata memang magnet itu masih ada, magnet yang menarik kata demi kata tertuang kembali di kanvas ini setelah sekian lama berdebu.

Saya merajuk, kawan, merajuk atas monoton dan pasifnya hidup saya. Bangun, kerja, pulang, tidur, di sela-selanya ada ibadah, makan, dan minum. Lho, kok ibadah di sela-sela saja? Bukankah kerja itu pun termasuk ibadah? Bukankah kegiatan lain itu seharusnya diletakkan di sela-sela ibadah?

Itulah, saya merajuk begitu lama. Saya merobot begitu lancar dan mudah, sehingga rasanya mengganggu bila sifat dan sikap manusia yang spontan dan intuitif itu muncul. Saya binasakan, saya biarkan hilang, sehingga robot ini tetap bertingkah sesuai programnya.

Dan di dalam masa merajuk itu, saya merajuk di dalamnya, merajuk karena saya merajuk (nah lho...) dan tersesat entah di mana. Saya protes, karena merajuk yang awalnya saya niatkan sebagai protes dan sementara, malah menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang tentunya tidak trendi sama sekali. Yang tadinya saya harapkan bisa menimbulkan kepuasan atas kemanusiaan yang saya rasa melelahkan, malah membebani saya dengan bermacam-macam kotoran ala robot, yang menyumpal sendi-sendi dan membuat gerak robot saya makin kaku seperti robot rusak.

Merajuk yang ini, sepertinya memang seharusnya saya lakukan lama sebelumnya, karena aksi dan reaksi tentunya selalu sejalan dan seiring. Merajuk tahap dua ini saya sebut sebagai membebaskan, karena hasilnya ternyata menyegarkan dan melepaskan saya dari gerak mekanis teratur nan ritmis dan tidak instingtif sebelumnya.

Maka, bila Anda merajuk karena kata-kata saya juga membuat Anda seperti robot rusak, entah menggeleng-geleng, atau mengangguk-angguk, atau malah jadi menari patah-patah dan kaku-kaku, tolong dimaklumi ya.

Maklum, saya sedang merajuk.