Hai hai hai,
Ah, ternyata memang magnet itu masih ada, magnet yang menarik kata demi kata tertuang kembali di kanvas ini setelah sekian lama berdebu.
Saya merajuk, kawan, merajuk atas monoton dan pasifnya hidup saya. Bangun, kerja, pulang, tidur, di sela-selanya ada ibadah, makan, dan minum. Lho, kok ibadah di sela-sela saja? Bukankah kerja itu pun termasuk ibadah? Bukankah kegiatan lain itu seharusnya diletakkan di sela-sela ibadah?
Itulah, saya merajuk begitu lama. Saya merobot begitu lancar dan mudah, sehingga rasanya mengganggu bila sifat dan sikap manusia yang spontan dan intuitif itu muncul. Saya binasakan, saya biarkan hilang, sehingga robot ini tetap bertingkah sesuai programnya.
Dan di dalam masa merajuk itu, saya merajuk di dalamnya, merajuk karena saya merajuk (nah lho...) dan tersesat entah di mana. Saya protes, karena merajuk yang awalnya saya niatkan sebagai protes dan sementara, malah menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang tentunya tidak trendi sama sekali. Yang tadinya saya harapkan bisa menimbulkan kepuasan atas kemanusiaan yang saya rasa melelahkan, malah membebani saya dengan bermacam-macam kotoran ala robot, yang menyumpal sendi-sendi dan membuat gerak robot saya makin kaku seperti robot rusak.
Merajuk yang ini, sepertinya memang seharusnya saya lakukan lama sebelumnya, karena aksi dan reaksi tentunya selalu sejalan dan seiring. Merajuk tahap dua ini saya sebut sebagai membebaskan, karena hasilnya ternyata menyegarkan dan melepaskan saya dari gerak mekanis teratur nan ritmis dan tidak instingtif sebelumnya.
Maka, bila Anda merajuk karena kata-kata saya juga membuat Anda seperti robot rusak, entah menggeleng-geleng, atau mengangguk-angguk, atau malah jadi menari patah-patah dan kaku-kaku, tolong dimaklumi ya.
Maklum, saya sedang merajuk.