Minggu, 17 Juni 2007

Perangku, Damaiku

darmaku menangis, ia sendiri
meringkuk, mengecil, nyaris ia lari
bagai semu tapi nyata,
bagai tiada, namun nyatanya ada

semua karenaku, lupa dan angkuh
memanja indera, jalani nafsu
geloranya amukan bayu
hitam putih pun abu-abu

darmaku menyayat, berurai darah
perlahan-lahan, terseok langkah
berharap pada sang surya
usir gelap, bukakan mata

maka bayu meluruh tunduk
maka indera turun bersujud
hitam memudar, putih tersamar
pekat melebur menjadi tawar

darmaku tawa, ia berkidung
goreskan sepena senandung
bayu, indera, hitam, putih
iringi langkah insan terpilih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar