darmaku menangis, ia sendiri
meringkuk, mengecil, nyaris ia lari
bagai semu tapi nyata,
bagai tiada, namun nyatanya ada
semua karenaku, lupa dan angkuh
memanja indera, jalani nafsu
geloranya amukan bayu
hitam putih pun abu-abu
darmaku menyayat, berurai darah
perlahan-lahan, terseok langkah
berharap pada sang surya
usir gelap, bukakan mata
maka bayu meluruh tunduk
maka indera turun bersujud
hitam memudar, putih tersamar
pekat melebur menjadi tawar
darmaku tawa, ia berkidung
goreskan sepena senandung
bayu, indera, hitam, putih
iringi langkah insan terpilih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar