Tampilkan postingan dengan label idul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label idul. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

Idul Fitri ini...tidak mudik seperti biasanya. Ada kewajiban yg harus ditunaikan, ada amanah yang harus dijaga. Rindu ini? Ah, biar tertumpah lewat satu dua tetes air mata di sela telepon. Bahwa cinta, bahwa sayang, bukan monopoli hari ini saja. Hari lain pun sama wajibnya kita menebarkan cinta kasih dan senyuman.

Idul Fitri ini...masih ada Opor Ayam, Sambal Goreng Daging Cincang, dan Lodeh Kacang Panjang, legendaris dan langsung dari tangan mama tersayang, yang pundaknya semakin sering sakit, yang lututnya semakin sering nyeri. Cepat sembuh ya Ma, jangan malas periksa ke dokter, apalagi dokternya kan tidak galak.

Idul Fitri ini...adikku tidak belanja baju baru. Dia bilang sudah beli kemarin-kemarin, jadi buat apa beli lagi sekarang. Ada bangga terselip, karena dia sudah makin mengerti keadaan keluarga, namun justru yang dominan adalah perasaan sedih, karena aku belum mampu membelikannya lagi tahun ini. Yah, walaupun sudah ada dua figur Bezita yang dia idolakan terlihat di kamarnya, sih. Harganya? Belum setara dengan sepotong blouse kualitas menengah. Tapi bagi dia, dua benda itu adalah harta karunnya saat ini, yang saat pecah harus mati-matian dilem dengan teliti.

Idul Fitri ini...papa banyak bolong puasanya. Apa gerangan? Sebabnya tidak lain gejala batu ginjal yang kembali beliau rasakan. Aku pun sempat kelimpungan mencarikan beliau obat sesuai resep, namun alhamdulillah didapatkan juga dengan lengkap. Otomatis, dengan keadaan beliau saat ini, akan sulit rasanya untuk bepergian seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga bertambah lagi alasan untuk ber-Idul Fitri di Malang.

Idul Fitri ini...lagi-lagi aku merasa malu dan sedih. Malu, karena merasa menyia-nyiakan satu bulan penuh ampunan yang disediakan-Nya. Sedih, karena begitu bulan ini berlalu, dimulailah penantian panjang akan kedatangannya kembali tahun depan, diiringi harap-harap cemas, apakah diri ini masih diperkenankan menemuinya kembali atau tidak.

Idul Fitri ini...adalah tahapan kesekian dalam hidupku, tempatku menancapkan tonggak baru, tempatku menentukan tujuan baru, tempatku bermetamorfosis, dan berharap akan kebahagiaan yang sama, yang selalu aku dambakan di sela-sela tarikan nafasku.

Mohon maaf lahir dan batin. Semua salah dan khilaf mohon diikhlaskan, mohon dimaafkan, hingga lapang terasa jalan meniti masa depan. Sebaliknya, aku pun memaafkanmu wahai teman-temanku, semua air mata yang lalu adalah pendewasaanku, semua kemarahanku yang lalu adalah latihan bagi kesabaranku, dan masa depan, adalah wadah bagi kita untuk sekali lagi mengembangkan sayap, sekali lagi memperkuat akar, dan mudah-mudahan usaha kita diterima oleh Allah SWT.

Selamat Idul Fitri

Senin, 30 Oktober 2006

Ada yang Beda

Moment spesial kaya Lebaran, terutama Lebaran 1427 H yg baru aja lewat, ninggalin something different inside my heart (weks, keminggris ).

Mulai dari ngejalanin puasa n beraktivitas yg beda abis sama tahun2 sebelomnya, kumpul sama orang2 yg g biasa dikumpulin, makan saur di lokasi yg blm pernah dibuat makan saur sebelomnya, n liburan sama orang2 yg lama g ditemui.

Maaf2 yang baru, pemaaf2 yang baru, namun tanpa baju yang baru, ternyata jauh lebih menyenangkan dan menenangkan.

Saat hati bertemu hati, senyum berbalas senyum, tawa menghasilkan tawa, saat dunia dan seisinya tampak jauh lebih menenteramkan.

Merayakan Lebaran dengan orang2 yg g merayakannya, menoleransi perbedaan hingga taraf tertentu, ternyata bisa meleburkan suasana dan kekakuan.

Ada yg beda dari sebelum2nya, dan ternyata, gw suka perbedaan itu.

MET LEBARAN 1427 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SAATNYA MENGISI HIDUP DENGAN KEBAHAGIAAN