Tampilkan postingan dengan label permata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label permata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2007

Setelah Badai

Suasana hati dan raga gw kayanya emang lagi gak selaras. Mood yg awut2an, badan yg cepet lemes n lesu, otomatis berimbas di kemampuan gw ngejaga emosi. Ledakan2 itu, lalu naik dan turun yg curam, kelokan2 tajam, badai pasir dan halilintar, sampe2 gw serem sendiri ngeliat gw hari ini.

Buat mama:
Bener kata mama, papa lg serem hari ini. Bener kata mama, papa masih g berubah dari diri papa yg dulu, yg begitu mudah sekaligus sulit didekati. Bener kata mama, ternyata kita g berubah sebanyak itu dari masa kecil kita. Bener jg kata papa, mungkin kita g perlu berubah sebanyak itu, hanya agar kita dicap dewasa.

Dan bahwa hidup menyimpan rahasia di setiap lembar perjalanannya, itu yg gw rasa sekarang. Abis gw nulis2 beginian ini, mood gw mulai membaik, ledakan2 itu menghilang, dan matahari mulai muncul. G abis2 gw heran dan bersyukur, di saat gw lg ngeblangsak seperti ini, temen2 sejati selalu datang, tanpa ba bi bu langsung ditariknya gw ke cahaya, dipaparnya mata gw dgn kelembutan, dan disapanya hati gw dengan cinta. Mereka, dengan segala kelebihan dan kehancurannya (), dengan cara masing2, nyadarin gw, segala yg tampaknya indah itu g selalu indah, dan semua yg keliatan buruk itu g selamanya buruk. Dan dgn temen2 seperti ini, g heran gw masi bisa berdiri, sekali lagi menantang dunia, sekali lagi melaju dalam perputaran nasib.

Teman, adalah permata dan cambuk, yang berharga dan menghargai, yang bisa lebih dekat dari daging dan tulang, dan karenanya, gw menyayangi mereka, setiap individu dari mereka, karena mereka telah bersikap sebagaimana apa adanya mereka.