Kamis, 08 Desember 2011

Apakah saya Gay?

Apakah pria yang mengidolakan pria lain (tidak termasuk Nabi dan Rasul yah :D) dapat dikategorikan sebagai gay?

Nah lho, ada angin apa nih, kok tau-tau ada pertanyaan macam itu?

Well, tanpa menyebut nama dan tanpa petunjuk lain, saya termasuk salah seorang pria yang punya idola pria. Hmm, bukan sekelas Dewa Budjana (saya tunggu rilis albumnya lho Mas) atau Indra Lesmana (kalau yang ini saya sudah beli album terbarunya :p), ataupun sekelas Bung Tomo dan Ki Hajar Dewantara. Pria yang saya idolakan ini ternyata sesama teman juga, yang alhamdulillah dianugerahi Allah dengan beberapa hal yang saya idam-idamkan untuk dapat saya miliki. Bisa jadi kelebihan-kelebihan yang bikin saya mengidolakannya itu biasa di mata orang lain, tapi untuk saya sendiri, some of them are too good to be true, dan itulah sebabnya saya (masih) mengidolakan dia.

*Errmm....kalau ada yang mau stop baca di sini, silakan, tapi jangan sebar opini yang aneh-aneh ya, hehehe.

Seorang teman ini, sebut saja Tarmin (tentu bukan nama sebenarnya, saya pilih karena kesannya Indonesia banget), merupakan putra yang dipercaya lahir dari orangtua yang berpunya. Hal ini dapat terlihat dari tampilan rumah sang orangtua yang makblaaarr besarnya, kendaraan roda dua dan roda empat yang tersedia di garasi (saya nggak tau mereka punya yang ber-roda satu atau tidak), dan dari kenyataan bahwa si Tarmin ini tidak pernah menunggak atau minta keringanan iuran pendidikan. 

Yang bikin saya angkat jempol (pertama), Tarmin amat jarang tampil layaknya SPG produk fashion apapun. Yang saya ingat adalah celana panjang kain non jeans dan kemeja atau kaus berkerah yang rapi. Mobil? Sesekali saja dipakai (amat jarang), seringnya sepeda motor. Jempol berikut datang karena tutur katanya yang tidak pernah tajam, seberat apapun konflik yang dihadapi. Yang ini memang tanda-tanda orang berpendidikan (dalam arti luas), bukan sekedar orang yang bersekolah.

Jempol ketiga dan keempat saya berikan sekaligus untuk Tarmin, karena adanya kecerdasan otak yang diiringi dengan kecerdasan iman dan kecerdasan hati. Ibadahnya terjaga baik dan benar, namun masih tetap gaul. Tidak cepat menghakimi, kalaupun ada opini yang seharusnya "nyelekit" ternyata bisa disampaikan dengan cara yang santun dan "nyaris" halus. Nilai pelajarannya pun bagus, walaupun memang bukan yang terbaik. Satu jempol lagi (aduh, saya pinjam jempol siapa nih...) saya berikan untuk seluruh usaha (atau kebiasaan) yang dilakukannya agar tetap sehat. No smoking, joging rutin, dan latihan basket membuatnya salah satu orang yang paling prima kesehatannya di komunitas saya.

Begitu biasa kan? Tapi semua kelebihan tersebut rasanya amat wajar kalau diinginkan oleh semua orang, baik pria atau wanita. Tentu saja ada kekurangan, namun bukankah kita diharuskan melihat kualitas yang baik agar dapat kita ikuti daripada kekurangan untuk kita cela?

Anyway, dengan segudang kelebihan yang sungguh mati membuat saya ingin memilikinya itu, ada syukur yang memercik bahwa ternyata ada juga kelebihan-kelebihan saya yang membuatnya terinspirasi. Tentunya tidak harus disikapi dengan berlebihan, namun boleh dong saya senang sedikit, hehehe. Pada akhirnya, kualitas diri kita ditentukan oleh semua usaha kita. Agar kita dinilai baik oleh orang lain, tentu kita harus lebih dulu bersikap baik kepada orang lain. Agar kita dinilai cerdas, tentu kita harus benar-benar cerdas. Agar kita dinilai ganteng, tentu kita harus berusaha tampil ganteng....nggg......kalau akhirnya tetap nggak ganteng, minimal dapat predikat rapi dan nggak jorok. Dan kalau mau dinilai sebagai orang alim, tentunya semua ibadah dan tingkah laku kita harus baik, bukan?

Dan pada akhirnya, saat si Tarmin ini menikah dengan perempuan baik-baik dan saya merasa senang plus sama sekali tidak mengurung diri di kamar dan menangis habis-habisan akibat menikahnya sang idola, hal ini pasti karena saya bukan gay, kan?

18 komentar:

  1. bukanlah Mas kalo kayak gitu, jangan kuatir he3

    BalasHapus
  2. terlepas iya ato tidak, semoga saya bukan termasuk golongan gay ataupun menjadi pasangan nya kaum gay... :D

    BalasHapus
  3. hahaha, iya, aku yakin juga enggak kok :D

    BalasHapus
  4. wakakaka, iya bor, bisa kacau kalau ketauan *ups

    becanda bor, wkwkww, kan dirimu sudah terbukti, aku masih berusaha membuktikan :D

    BalasHapus
  5. Santai...hehehehee
    Terinspirasi itu wajar.

    BalasHapus
  6. Wew mas Bambang jawaban sampean kok santai :O terinspirasi maneh... wah... iku jawaben judul e mas Fajar...

    *aku gak gay masss.... :D

    BalasHapus
  7. terinspirasi dengan seseorang kan maksudnya, Cak? bukan terinspirasi dengan paham gay-isme to :D

    BalasHapus
  8. lhoo, Cak No bener itu, santai aja dibawanya....btw, kamu gak gay? mari kit` tunggu pembuktiannya (saat Yuan menikah dengan wanita, huehehehehe....)

    BalasHapus
  9. aduh, ada ibu satu ini......cemas menanti komen2 lanjutan yang mengezudkan :D

    BalasHapus
  10. yah jar, tak kusangka, ha ha ha ...*komen ga jelas banget yah*

    BalasHapus
  11. komennya sambil ngurusin keke, jadi ga jelas, wkwkwkw

    BalasHapus
  12. Monggo mas welly (alamak, lama kali aku balasnya ini :D)

    BalasHapus
  13. hahahaha gw baru tahu sifat do'i ketika kau bercerita tnt tulisan ini ....dan itu jauuuh setelah kita mengakhiri masa-masa biadab (menjadi mahluk sesat kampus) ... BUT!...sekarang lo tahu lah, lo lebih populer daripada do'i, Jatt :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkw, ah elu Jatt, dari dulu juga kan gw yg lebih populer daripada die....wakakakakaka......

      He's so humble u know, saking humble-nya gw blm kontak lagi udah setaunan kayanya....ckckckc...

      Hapus