Kemarin, selepas Isya' aku berjalan. Ada yang menunggu, saling memahami bahwasanya hasrat di dada ini nyata. Pikiranku penuh, kakiku letih, hingga tawa pun seperti kehilangan makna. Namun kami ada, hingga waktu pun berlalu perlahan.
Melalui pandangan dan kata-kata, terangkai sebuah kisah. Ia bisa membahagiakan, namun saat itu seperti mengambang tanpa bobot. Saatnya hati mengambil peran, dan kami hanya mengalirkan diri di arusnya. Tanpa perlawanan, jejak-jejak terbentuk.
Kami memenjarakan banyak hal, sebelumnya kami anggap tidak begitu penting. Lalu aliran suara membawa kami ke tahap mengerti, bahwa tak sepantasnya mereka diacuhkan. Kami mendengarkan, menanam benih pemahaman, dan pundak kami tiba-tiba memberat. Hening, kecamuk pikiran dan angin malam yang jarang berhembus, menerangi bagai sorot lentera di hutan lebat. Gelisah, karena kami menyadari banyak hal yang meresahkan. Lega di saat yang sama, saat keberadaan kami saling diakui.
Gairah baru muncul, ketakutan baru pun hadir. Tempat seperti apa yang menunggu kami di depan? Berlarikah kami, berjalan, atau merangkak? Mungkin kami terlalu cepat, atau malah terlalu lambat. Mungkin pula kami meributkan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin malah kami tidak meributkan hal-hal yang sebenarnya perlu diributkan. Atau semuanya sekedar ilusi?
Di tengah-tengah kebimbangan, dan kami mencoba meraba kepastian, kesadaran pun terbentuk. Kesadaran tentang diri kami, mereka yang hadir menemani hari-hari kami, dan alasan-alasan di sebaliknya. Kesadaran akan kelebihan dan kelemahan kami dalam memperlakukan satu sama lain. Kesadaran bahwa masih ada wajah kami di balik topeng yang kami kenakan. Kesadaran tentang harapan-harapan yang kami bebankan di pundak pasangan kami. Kesadaran untuk mendamaikan hati dan menjalani semua apa adanya.
Kami menjalani hidup, tidak dengan sempurna, karena kami tidak mungkin sempurna.
Kami membentuk hubungan ini, tidak dengan lurus, tetapi mengalir dan fleksibel.
Kami memanusiakan diri kami, dan mengasihi pasangan kami.
Kami mencari diri kami dalam keseharian kami, melepaskan diri dari kekangan hati.
Semoga kami mampu menjalani semua pahit manis hubungan ini, tidak dengan keputusasaan, tapi dengan keterbukaan dan penerimaan yang jujur.
Melalui pandangan dan kata-kata, terangkai sebuah kisah. Ia bisa membahagiakan, namun saat itu seperti mengambang tanpa bobot. Saatnya hati mengambil peran, dan kami hanya mengalirkan diri di arusnya. Tanpa perlawanan, jejak-jejak terbentuk.
Kami memenjarakan banyak hal, sebelumnya kami anggap tidak begitu penting. Lalu aliran suara membawa kami ke tahap mengerti, bahwa tak sepantasnya mereka diacuhkan. Kami mendengarkan, menanam benih pemahaman, dan pundak kami tiba-tiba memberat. Hening, kecamuk pikiran dan angin malam yang jarang berhembus, menerangi bagai sorot lentera di hutan lebat. Gelisah, karena kami menyadari banyak hal yang meresahkan. Lega di saat yang sama, saat keberadaan kami saling diakui.
Gairah baru muncul, ketakutan baru pun hadir. Tempat seperti apa yang menunggu kami di depan? Berlarikah kami, berjalan, atau merangkak? Mungkin kami terlalu cepat, atau malah terlalu lambat. Mungkin pula kami meributkan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin malah kami tidak meributkan hal-hal yang sebenarnya perlu diributkan. Atau semuanya sekedar ilusi?
Di tengah-tengah kebimbangan, dan kami mencoba meraba kepastian, kesadaran pun terbentuk. Kesadaran tentang diri kami, mereka yang hadir menemani hari-hari kami, dan alasan-alasan di sebaliknya. Kesadaran akan kelebihan dan kelemahan kami dalam memperlakukan satu sama lain. Kesadaran bahwa masih ada wajah kami di balik topeng yang kami kenakan. Kesadaran tentang harapan-harapan yang kami bebankan di pundak pasangan kami. Kesadaran untuk mendamaikan hati dan menjalani semua apa adanya.
Kami menjalani hidup, tidak dengan sempurna, karena kami tidak mungkin sempurna.
Kami membentuk hubungan ini, tidak dengan lurus, tetapi mengalir dan fleksibel.
Kami memanusiakan diri kami, dan mengasihi pasangan kami.
Kami mencari diri kami dalam keseharian kami, melepaskan diri dari kekangan hati.
Semoga kami mampu menjalani semua pahit manis hubungan ini, tidak dengan keputusasaan, tapi dengan keterbukaan dan penerimaan yang jujur.
bener ... belajar dan belajar ...
BalasHapuswah, aku nggak bisa baca nih..item ndeteng tulisannya...
BalasHapusiya mas, belajar tiap saat :D
BalasHapuslewatin mousenya di postinganku mbak, ntar kan jadi kuning ngejreng tulisannya :D
BalasHapussampai tua pun kita kan terus belajar....=)
BalasHapuskeep on learning.....=)
lagi berargumen ria nih? biasa....nanti khan yayang yayangan lagi...
BalasHapussiap master!!!
BalasHapus:p
ahahahha.....amin...
BalasHapusom jar manusia tak kan bisa menjadi sempurna tapi bisa belajar menjadi yang lebi baek <<< ngga tau kata sapa yah ini :P
BalasHapussepakat
BalasHapusno comment :P
BalasHapuslha itu comment :D
BalasHapusPengalaman adalah guru yg terbaik.... gitu katanya Kk..
BalasHapusSmangat smangat yaa... Ayooooo kamuuuuuuuu bisaaaaaaaa :-D
Pesen dr gue...supaya langgeng....expect nothing! Trima dia apa adanya, males2nya, jelek2nya, mood2an-nya, dll dll. Biasanya, kalo salah satu dah pengen 'mengubah' pasangannya, ujung2nya malah ribut n brantem deh..
BalasHapussiapa sih kami itu? :D ehem ehem
BalasHapushooo.....let it flows.....
BalasHapusPesanan sudah diterima Pak, mungkin ada tambahan pesanan lagi?
BalasHapus:p
Makasih mas. Tp kayanya kl aku sm dia ntu kekurangan konflik deh, jadi butuh konflik biar anget....hayoo...aneh kan?
ahahahahhaa.......
BalasHapusno further comment :p
wah2.... mas e iki rek.... kata2 ne dualem bangettt.... ^_^
BalasHapussemoga bisa segera nyampe ke tempat yg sudah menunggu kalian di depan mas... :D
terus belajar untuk mengerti... karena dengan kita mengerti kita akan tau apa yang seharusnya kita lakukan...
* belajar juga nih, bikin kata2 yg keren kaya mas Fajar... ^__^
hehehe, masa sih dalem?
BalasHapusmakasih doanya ya, ga usah segera gpp, yang penting nyampe :D
reaching for the next step, to reach the next step of it...
orang hidup penuh dengan pelajaran.. pembelajaran diri untuk meraih kesempurnaan hidup.. << bener nggak sih ketikanku.. klo ada yang salah mohon.. mohon.. diluruken..
BalasHapusya itu aja yg perlu dibenerin ketikannya, jadi diluruskan......
BalasHapusndang nikah aja dueh ... xixixii
BalasHapushehehehe...kl diburu-buru jadinya mesti awut2an.....lha wong yg udah ber-taun2 pacaran aja ga nikah2, padahal udah sama2 di Jakarta :p
BalasHapushahaha sindir menyindir...
BalasHapusah, itu kan perasaan dik s3g3r aja :D
BalasHapusMas, aku ra iso mbaca postingan seng iki. gelap tenan-an tooo!!
BalasHapuswong aku nulis comment juga pake meraba-raba dalam kegelapan.huahahaha..
ganti lah layout-te. mbmboten keton.. :p
diajeng, mousenya digerakin ke tulisannya, ntar kan keliatan kuning ngejreng :D
BalasHapusya lah, nanti tak ganti themenya, udah ada 3 orang yg protes :D
lana ohh lana... Miss You Baby @};--
BalasHapushayyah, dilarang ngerayu di blog orang!!!
BalasHapusho oh kii vote buat ganti tem0late ...
BalasHapushaiyahh ndak apa apa deuhh di sindir [ merasa kesindir kii terus terang hiehiehie)
sebagai hukumannya ntar klo dapet 7undangan wajib dateng yaaa kekekekkeke
hah? 7 undangan? km semuanya? mo nikah 7 kali?
BalasHapuseh busettt.....
wahh bagus banget sih profilenya, indah br belajar nih di mutiply, jd gak begitu mudeng banget:D. lam kenal aja ya..
BalasHapusyup, salam kenal juga indah...
BalasHapusnah.. gini dwong ganti. Kan jadi serasa sueger kayak lg jalan2 di Thailand ^_^
BalasHapusAduh..duh..duh... ada yg kangen nih ama Lan. (jadi maluuu*)
BalasHapusPasti ada mau-nya tuh ye??
Yawes..mau mkn apa hr ini?? ta' masakin deh..
hohohoh, kaya di Thailand ya?
BalasHapushmmm......