Kamis, 03 Januari 2013

Dawai Kebahagiaan

Ah, judulnya berlebihan kayanya, ahahahaha.....

Mohon dimaklumi kalau saya terasa "meluap-luap" pada postingan kali ini. Istri saya sendiri sudah mafhum kalau saya bisa sedemikian berbinar dan "lupa malu" kalau sudah bertemu dengan sesosok manusia Indonesia yang sama-sama suka makan nasi, sama-sama butuh ke kamar mandi dan ke kamar tidur setiap harinya, tapi karena dedikasi dan kemampuannya, saya tahbiskan beliau di dalam posisi "Maestro", bahkan "Virtuoso", dan silakan mendebatnya kawan-kawan pembaca, karena posisi itu murni hanya ada di dalam hati saya, amat sangat subyektif saya sekali, dan mau didebat seperti apapun tetap saja tidak akan saya ubah.

Mas Jubing Kristianto, yang situsnya bisa kawan-kawan temukan pada tautan ini, adalah sosok yang tadi saya sebutkan. Kalau mau lihat bagaimana BODOHNYA wajah saya saat mendapat kesempatan bertemu dengan beliau, silakan lihat di foto berikut ini. Silakan scroll langsung ke tulisan di bawahnya apabila tidak ingin melihat fotonya yah :p

Kesampaian difoto bersama Mas Jubing Kristianto

Secara singkat, Mas Jubing Kristianto adalah seorang gitaris yang berasal dari Semarang (kalau tidak salah), pernah bekerja sebagai wartawan selama 13 tahun (berdasarkan penuturannya sendiri), dan saat ini begitu menikmati perannya sebagai musisi, guru musik, dan endorsee salah satu produk alat musik di dunia, khususnya di Indonesia.

Saya berkenalan dengan karya-karya beliau kira-kira saat beliau telah menelurkan album pertama, Becak Fantasy di tahun 2007. Dua lagu yang langsung menarik perhatian saya adalah Becak Fantasy dan Burung Kakatua. Bagaimana permainan pada satu gitar bisa membuat lagu-lagu tersebut terasa "utuh" dan kadang terasa "ramai" itulah yang benar-benar membuat saya benar-benar menyukai karya beliau. Plus, tidak dipungkiri bahwa hasil modifikasi yang edan-edanan terhadap lagu anak-anak itu selalu dan selalu membuat saya ingin "ngulik" gitar, walaupun tentunya sebatas kemampuan saya yang hanya layak untuk konsumsi pribadi saya sendiri, hehehe.

Album kedua, ketiga, dan keempat berhasil saya koleksi selama rentang waktu 2010 - 2012, cukup terlambat sebenarnya, namun saya rasa lumayanlah, daripada saya tetap bertahan mendengarkan lagu-lagu beliau dengan ditemani rasa bersalah karena mendapatkannya dari unduh gratis di internet, kan lebih baik saya sekalian mengoleksi CD karya beliau, ya to? Dan kepada kawan-kawan pembaca, tulisan ini bukan bermaksud pamer ya. Silakan ditafsirkan masing-masing, yang jelas maksudnya bukan pamer. Mungkin hanya bermaksud sedikit menghimbau.

Dan akhir bulan Oktober 2012, di salah satu pusat perbelanjaan modern di Jakarta, saat saya sedang berjalan-jalan dengan istri tercinta, datanglah kesempatan itu. Kesempatan untuk melihat sebagian pertunjukan beliau dengan mata kepala saya sendiri. Kesempatan meminta beliau untuk memainkan Bohemian Rhapsody. Kesempatan meminta foto bersama beliau. Kesempatan memperlihatkan wajah bodoh saya kepada istri saya, yang katanya selama pertunjukan, senyum saya tidak pernah hilang, sampai dia takut gigi saya kering. Kesempatan mendeskripsikan beliau secara singkat, saat saya ditanya oleh penonton di sebelah saya, "Mas, itu siapa? Terkenal ya? Lebih bagus mana sama Ian Antono?"

Dan di saat itu, saya menyaksikan kebesaran beliau. Kebesaran yang tidak ditunjukkan oleh jumlah penonton videonya di Youtube. Kebesaran yang tidak ditunjukkan oleh perilaku angkuh dan No Comment. Kebesaran yang diusung oleh seorang pecinta kesederhanaan, yang tujuannya berkarya pun sederhana.

Karena cinta, pada gitar, pada musik, dan pada kedamaian.

Rabu, 02 Januari 2013

Serempetan Periode Baru

Tak seperti tahun yang lalu, akhir tahun ini cukup banyak hari libur yang dapat saya nikmati senikmat-nikmatnya, sepanjang-panjangnya, walaupun tanpa tambahan cuti. Sekalipun beras dan telur di rumah tak juga berganti dengan kentang dan daging sapi has dalam, rasanya tetap bahagia, sebahagia-bahagianya.



Pendulum jam dinding yang tak lagi berayun karena sering rusak tetap mengiringi hari demi hari yang saya rajut bersama orang-orang tersayang. Keluarga, istri (saya bedakan, karena nyatanya kami masih berselimut jarak yang lumayan), sahabat, teman, silih berganti hadir dan menghadirkan kisah dan kisah lagi, sebagian abadi, sebagian rapuh dan hilang dihembus angin yang baru. Percakapan, tepuk sapa hangat, dan bunyi notifikasi yang datang membanjiri telepon genggam saya rasanya harus dapat saya syukuri seluas-luasnya, karena ia memberikan saya hubungan, yang karenanya sepi ini tak terlalu terasa.

Impian dan cita-cita, jamak ditancapkan tonggaknya pada setiap awal periode, di manapun periode itu dimulai. Penilaian dan evaluasi selalu mengakhiri periode sebelumnya, dengan nilai merah atau hitam yang seringkali muncul karena belas kasihan sang evaluator, yaitu diri kita sendiri. Pada akhirnya, kitalah yang selalu menghakimi diri kita sendiri, yang hasil evaluasinya paling kita percaya, seberapapun absurdnya di mata orang lain. Karena selapang apapun kita menerima pendapat orang, pada akhirnya komparasi dengan idealisme diri sendirilah yang menang.

Perjalanan, atau pelarian, yang manapun yang kita pilih, selalu memasuki babak baru pada setiap tarikan dan hembusan nafas kita, pada setiap sayatan yang dibuat sang waktu dalam dimensi keempat dunia. Berjalan atau berlari, menuju atau menjauhi, adalah pilihan yang telah dibebaskan-Nya untuk kita pilih, untuk kemudian kembali Dia bebaskan untuk dilakukan atau tidak. Dengan sedemikian banyak dan dominannya pilihan yang kita buat dalam setiap waktu hidup kita, layakkah kita menimpakan kesalahan kepada kambing (seringnya yang hitam), waktu, orang lain, atau Tuhan?

Saya mencoba untuk berpikir dan berjalan dengan sederhana, yang nyatanya, dengan sederet embel-embel Nilai dan Predikat yang saya ingin raih, ternyata amat sulit dilakukan. Lebih mudah untuk ses`at memanjakan diri saya dengan Kebahagiaan Picisan, tanpa mau mengakui bahwa sebenarnya, seumur hidup saya, saya selalu dan selalu menjalani Penderitaan Agung.

Dan bila hasilnya Picik, jelaslah, walaupun saya tak mengakuinya, bahwa itu adalah hasil dari kemanjaan dan kesalahan saya, bukan dia, dia, atau Dia.

Selamat memulai periode demi periode yang baru, semoga kita tak tersesat dalam pemakluman dan penyesatan diri sendiri.