Ah, judulnya berlebihan kayanya, ahahahaha.....
Mohon dimaklumi kalau saya terasa "meluap-luap" pada postingan kali ini. Istri saya sendiri sudah mafhum kalau saya bisa sedemikian berbinar dan "lupa malu" kalau sudah bertemu dengan sesosok manusia Indonesia yang sama-sama suka makan nasi, sama-sama butuh ke kamar mandi dan ke kamar tidur setiap harinya, tapi karena dedikasi dan kemampuannya, saya tahbiskan beliau di dalam posisi "Maestro", bahkan "Virtuoso", dan silakan mendebatnya kawan-kawan pembaca, karena posisi itu murni hanya ada di dalam hati saya, amat sangat subyektif saya sekali, dan mau didebat seperti apapun tetap saja tidak akan saya ubah.
Mas Jubing Kristianto, yang situsnya bisa kawan-kawan temukan pada tautan ini, adalah sosok yang tadi saya sebutkan. Kalau mau lihat bagaimana BODOHNYA wajah saya saat mendapat kesempatan bertemu dengan beliau, silakan lihat di foto berikut ini. Silakan scroll langsung ke tulisan di bawahnya apabila tidak ingin melihat fotonya yah :p
![]() |
| Kesampaian difoto bersama Mas Jubing Kristianto |
Secara singkat, Mas Jubing Kristianto adalah seorang gitaris yang berasal dari Semarang (kalau tidak salah), pernah bekerja sebagai wartawan selama 13 tahun (berdasarkan penuturannya sendiri), dan saat ini begitu menikmati perannya sebagai musisi, guru musik, dan endorsee salah satu produk alat musik di dunia, khususnya di Indonesia.
Saya berkenalan dengan karya-karya beliau kira-kira saat beliau telah menelurkan album pertama, Becak Fantasy di tahun 2007. Dua lagu yang langsung menarik perhatian saya adalah Becak Fantasy dan Burung Kakatua. Bagaimana permainan pada satu gitar bisa membuat lagu-lagu tersebut terasa "utuh" dan kadang terasa "ramai" itulah yang benar-benar membuat saya benar-benar menyukai karya beliau. Plus, tidak dipungkiri bahwa hasil modifikasi yang edan-edanan terhadap lagu anak-anak itu selalu dan selalu membuat saya ingin "ngulik" gitar, walaupun tentunya sebatas kemampuan saya yang hanya layak untuk konsumsi pribadi saya sendiri, hehehe.
Album kedua, ketiga, dan keempat berhasil saya koleksi selama rentang waktu 2010 - 2012, cukup terlambat sebenarnya, namun saya rasa lumayanlah, daripada saya tetap bertahan mendengarkan lagu-lagu beliau dengan ditemani rasa bersalah karena mendapatkannya dari unduh gratis di internet, kan lebih baik saya sekalian mengoleksi CD karya beliau, ya to? Dan kepada kawan-kawan pembaca, tulisan ini bukan bermaksud pamer ya. Silakan ditafsirkan masing-masing, yang jelas maksudnya bukan pamer. Mungkin hanya bermaksud sedikit menghimbau.
Dan akhir bulan Oktober 2012, di salah satu pusat perbelanjaan modern di Jakarta, saat saya sedang berjalan-jalan dengan istri tercinta, datanglah kesempatan itu. Kesempatan untuk melihat sebagian pertunjukan beliau dengan mata kepala saya sendiri. Kesempatan meminta beliau untuk memainkan Bohemian Rhapsody. Kesempatan meminta foto bersama beliau. Kesempatan memperlihatkan wajah bodoh saya kepada istri saya, yang katanya selama pertunjukan, senyum saya tidak pernah hilang, sampai dia takut gigi saya kering. Kesempatan mendeskripsikan beliau secara singkat, saat saya ditanya oleh penonton di sebelah saya, "Mas, itu siapa? Terkenal ya? Lebih bagus mana sama Ian Antono?"
Dan di saat itu, saya menyaksikan kebesaran beliau. Kebesaran yang tidak ditunjukkan oleh jumlah penonton videonya di Youtube. Kebesaran yang tidak ditunjukkan oleh perilaku angkuh dan No Comment. Kebesaran yang diusung oleh seorang pecinta kesederhanaan, yang tujuannya berkarya pun sederhana.
Karena cinta, pada gitar, pada musik, dan pada kedamaian.


