Sudah di penghujung tahun 2012, dan baru beberapa saat yang lalu saya sadar, bahwa sekali pun belum pernah ada tulisan yang mengungkapkan rasa syukur saya yang amat besar dan dalam terhadap satu peristiwa mahapenting di dalam hidup saya. Tentu bukannya saya kurang bersyukur (agak ngeles, eh tapi bukan ngeles kok sebenarnya :D), malah mungkin saking saya terlalu bersyukur dan menghayati, saya jadi susah membagikannya dalam bentuk tulisan yang bisa jadi malah mengerdilkan rasa syukur tersebut.
Ehm...dimulai yuk, hehehe...
Berawal dari posting yang ini, lalu sedikit disinggung di sini, dan berlanjut ke situ, akhirnya baru berani saya umumkan di khalayak publik blog lama saya di posting yang INI. Ya, semua posting itu merujuk pada seonggok....eh....sebentuk manusia yang amat saya syukuri kehadirannya di dunia yang ruwet ini. Sosok yang cantik, kuat, dan amat penyayang, yang selalu membuat saya bersyukur setiap membuka mata di pagi hari, istri saya yang amat tercinta.
Wanita ini adalah (kalau ada yang belum tahu dan malas mencari tahu) teman seangkatan saya semasa SMP di Cilegon. Seingat saya, dari masa itu pun ukuran tubuhnya sud`h terbilang besar, bahkan lebih besar dari ukuran tubuh saya yang terbilang makmur gemah ripah lohjinawi. Dan karena memang bukan teman akrab di SMP, ingatan saya pun berhenti pada sebentuk foto hitam putih 3x4 yang tercetak sederhana di buku alumni SMP. Di sisi lain, ternyata dia mengingat saya di masa SMP lebih daripada saya mengingat dia. Dia ingat culun dan galaknya saya sebagai ketua kelas, dia ingat beberapa prestasi saya di masa itu, dia (sialnya) ingat juga beberapa teman wanita yang menjadi target gagal saya, dan yang terakhir, dia ingat juga saat saya pamit untuk melanjutkan pendidikan di daerah yang jauh dari Cilegon, sedangkan saya lupa kalau saya pernah pamit, hehehehe...
Bertemu lagi di tahun 2008, kami memutuskan untuk menjajaki hubungan yang lebih dekat, tanpa merencanakan dahulu di awal jangka waktunya. Hubungan jarak jauh antara Jakarta dan Malang pun tercipta, dan ternyata memakan waktu 4 tahun sebelum saya bisa bersanding dengannya, sah di mata Tuhan, Agama, dan Negara sebagai Suami Istri.
Tepat tanggal 16 Maret 2012, saya mengucapkan kalimat sakral itu, kalimat yang begitu berat saya rasakan, begitu membuat batin saya berdebar-debar dengan kecemasan, bahkan nyaris mengalahkan pegalnya duduk bersimpuh selama 45 menit!
"Saya terima nikahnya Widya P****** H******* binti *** ******* ******* ******* dengan maskawin tersebut, tunai!"
Sejak saat itu, nafas ini adalah nafasnya, tangan ini adalah tangannya, dan hati ini adalah hatinya. Saya sadari ketidaksempurnaan saya baik sebagai manusia maupun sebagai laki-laki, dan saya syukuri setiap hari keindahan hatinya yang mau menerima saya dan segala keterbatasan itu, yang selalu memperluas telaga kesabarannya setiap kali saya dirasanya belum dapat memenuhi keinginan tertentu, dan selalu mendampingi saya di setiap tarikan nafas saya, walaupun secara raga kami masih terpisah jauh.
Terima kasih untuk semuanya, Bunda, mudah-mudahan segalanya akan menjadi lebih indah lagi bagi keluarga kecil kita. Kita jelang bersama saatnya kita hidup bersama, dan semoga saat itu terwujud, kita tidak akan terpisah lagi hingga ajal menjemput.
