Sabtu, 16 Agustus 2008

Jeritan Ini

Ya Allah

Karuniakan rahmat dan ridhamu pada kami, ya Allah

Aku cinta dia

dan semakin aku cinta dia, semakin aku bersyukur pada-Mu ya Allah

satukan kami dalam mahligai rumah tangga yang penuh dengan nilai-nilai agama-Mu

dan jaga hati kami dari pupusnya rasa syukur tadi, ya Allah

Semoga engkau mengabulkan jeritan hati ini, ya Allah ya Tuhanku

Jumat, 01 Agustus 2008

Dia...Temani Aku di Setiap Langkahku

Dari mana harus dimulai...hmm, mungkin lebih baik diawali dengan kisah kurang lebih 6 bulan yang lalu, tepatnya bulan Januari, di mana bulan itu jadi salah satu bulan yang perih di tahun 2008. Belum lama segala rencana dipancangkan, secepat itu pula ada yang harus berakhir. Mengharapnya ga jauh-jauh dari lirik bahagia dan optimis di lagu "11 Januari"-nya Gigi, malah jadi mirip "Januari"-nya Glenn Fredly.

Apa boleh buat, mau perih ato engga, waktu ga akan nunggu. Hilang satu, pasti ada satu yang lebih baik menunggu di depan. Walopun gitu, ga ada rencana atau siasat buat cepet-cepet dapet gantinya. Gimana mau susun siasat, lha wong masih dalam masa menjauh dari kaum hawa, jadi ya ga mikir ke arah sana, walopun juga alhamdulillah ga kepikiran buat jadi homoseksual. 

Waktu lagi remuk redam, yang enak memang lari ke temen. Afnal, Mas Bayu, Tria, termasuk temen-temen SMP nun jauh di tempat masing-masing (kalo yang ini lewat Yahoo! Messenger). Di antara temen lama yang itu ada yang namanya Pupun, dan satu lagi biasa dipanggil Dhani. Dua-duanya ternyata kaum hawa yah, jadi heran sama tekad buat menjauh dari kaum hawa, sebenernya serius apa engga yaa...

Curhat berjalan biasa aja, dan akhirnya hari-hari berikutnya jadi biasa curhat. Biasa curhat yang artinya ga biasa kalo ga curhat, dan jadi ada yang hilang. Perasaan kaya gini mulai mengarah ke pihak tertentu, dan dalam hal ini tertuduhnya adalah dia yang tadi aku panggil dengan Dhani. Dan untungnya (atau sayangnya), aku dan dia sama-sama pengguna jasa kartu prabayar Mentari, yang dapet fasilitas freetalk alias telepon gratis dari jam 00.00 sampai 05.00 WIB (cuma) selama dua hari sejak pengisian pulsa minimal Rp 25.000. Fasilitas ini, terlepas dari segala kekurangannya, bener-bener jadi perekat hubungan kami.



Dhani yang pertama kali telepon waktu freetalk kira-kira satu bulan lebih tiga minggu selepas kejadian perih-perih di bulan Januari tadi, atau kira-kira 3 minggu sesudah rasa perih itu lebur. Niat awalnya telepon (aku tau setelah belakangan ini) cuma mau ngetes nomor aja, seperti kebiasaan dia sebelum ini ke semua temen-temennya. Ternyata tes telepon itu bertahan sampe jam 05.00, kurang lebih 5 jam kami bertelepon ria dari saat dia telepon sekitar jam 00.00. Telingaku panas, tapi ga tau kenapa semua obrolan itu berlangsung renyah dan hangat, persis kulit martabak kalo masih panas. Telepon kedua di hari berikutnya, masih juga bertahan 5 jam.

Sejak itu, mulai ada keinginan balas telepon dia. Akhirnya aku isi pulsa juga, dan diniharinya langsung manfaatin freetalk. Walopun di pagi harinya aku dan dia pasti ngantuk dan lemes, tapi rasanya semua bisa ditahan, asal ada kesempatan freetalk. Perkembangan lanjutan, telepon sudah ga hanya waktu freetalk saja, tapi juga di jam-jam lain, sepanjang hati pengen telepon.

Dan kira-kira seminggu berikutnya, terjadilah tragedi itu, saat aku keceplosan mengungkapkan perasaanku (yang sebenernya antara yakin dan ga yakin), dan akhirnya menyeret percakapan ke zona aneh, dengan ucapan-ucapan yang aneh, yang sampe sekarang masih bisa diinget dan jadi kenangan berdua. Tapiii....ga jadian hari itu kok, soalnya pihak adam alias si cowo masih tergagap-gagap mau nembak. Tapiii lagiii.....besoknya jadi kok nembaknya, dan berhubung pihak hawanya juga agak-agak punya rasa, langsung diterima deh, hehehe.

Begitu banyak yang ga bisa aku berikan ke dia, kesempatan bertemu, jalan berdua, makan bareng, saat ini belum bisa. Namun, perlahan dan pasti, perasaan ini akan menemukan jalannya untuk bersatu, karena saat ini bukan apa-apa, bila dibandingkan sekian waktu sisa hidup yang akan aku lewati bersamanya.

Rasaku bukan ombak yang ganas,
cepat meninggi dan menghancurkan,
lalu cepat menyurut.

Rasaku adalah udara,
yang kauhirup tanpa kausadari,
menyegarkan seluruh sel-sel tubuhmu,
dan melingkupi setiap harimu.



Hehehehe....pasti dia, dan kamu semua yang baca, bakal bilang gombal, ya kan? ya kan?

Ga pa pa laaaa, kalo ga ada gombal, ibu rumah tangga bakal bingung. Masa iya mau ngelap kompor pake gaun?