Senin, 29 Oktober 2007

Kami (masih dan selalu) Belajar

Kemarin, selepas Isya' aku berjalan. Ada yang menunggu, saling memahami bahwasanya hasrat di dada ini nyata. Pikiranku penuh, kakiku letih, hingga tawa pun seperti kehilangan makna. Namun kami ada, hingga waktu pun berlalu perlahan.

Melalui pandangan dan kata-kata, terangkai sebuah kisah. Ia bisa membahagiakan, namun saat itu seperti mengambang tanpa bobot. Saatnya hati mengambil peran, dan kami hanya mengalirkan diri di arusnya. Tanpa perlawanan, jejak-jejak terbentuk.

Kami memenjarakan banyak hal, sebelumnya kami anggap tidak begitu penting. Lalu aliran suara membawa kami ke tahap mengerti, bahwa tak sepantasnya mereka diacuhkan. Kami mendengarkan, menanam benih pemahaman, dan pundak kami tiba-tiba memberat. Hening, kecamuk pikiran dan angin malam yang jarang berhembus, menerangi bagai sorot lentera di hutan lebat. Gelisah, karena kami menyadari banyak hal yang meresahkan. Lega di saat yang sama, saat keberadaan kami saling diakui.

Gairah baru muncul, ketakutan baru pun hadir. Tempat seperti apa yang menunggu kami di depan? Berlarikah kami, berjalan, atau merangkak? Mungkin kami terlalu cepat, atau malah terlalu lambat. Mungkin pula kami meributkan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin malah kami tidak meributkan hal-hal yang sebenarnya perlu diributkan. Atau semuanya sekedar ilusi?

Di tengah-tengah kebimbangan, dan kami mencoba meraba kepastian, kesadaran pun terbentuk. Kesadaran tentang diri kami, mereka yang hadir menemani hari-hari kami, dan alasan-alasan di sebaliknya. Kesadaran akan kelebihan dan kelemahan kami dalam memperlakukan satu sama lain. Kesadaran bahwa masih ada wajah kami di balik topeng yang kami kenakan. Kesadaran tentang harapan-harapan yang kami bebankan di pundak pasangan kami. Kesadaran untuk mendamaikan hati dan menjalani semua apa adanya.

Kami menjalani hidup, tidak dengan sempurna, karena kami tidak mungkin sempurna.
Kami membentuk hubungan ini, tidak dengan lurus, tetapi mengalir dan fleksibel.
Kami memanusiakan diri kami, dan mengasihi pasangan kami.
Kami mencari diri kami dalam keseharian kami, melepaskan diri dari kekangan hati.

Semoga kami mampu menjalani semua pahit manis hubungan ini, tidak dengan keputusasaan, tapi dengan keterbukaan dan penerimaan yang jujur.

Kamis, 18 Oktober 2007

Posting pertama dari GaleriNet

Hmm....

Bosen di kantor, jadi jalan2 keluar sekalian cari makan, secara seharian ga kemasukan makanan blas....tidur kaya orang mati dari jam setengah delapan pagi sampe jam empat sore. Bangun2 gelagepan gara2 kelewatan Dhuhur, yaudah dirapel deh.

Pengen sate, jadi bela2in jalan sampe ke Dinoyo,  n ketemu juga. Nyate, kenyang, trus jalan ke tempatnya si Seger alias Yusuf. Di sana kok pengen ngenet, jadi buka kompie, eh malah sama dia gak boleh bayar, alias pake membernya dia. Jadi enak, hehehehe.....tengkyu ya ger.

Ternyata tadi temen2 keliling2 pas aku tepar, duh, batal lagi ke rumahnya Thera deh. Plus mereka juga ke rumahnya Ihwan, yg notabene aku blom tau juga. Haduuuh....ga ol sehari aja kelewatan momen silaturahmi. Gapapalah, moga2 kapan2 ada kesempatan lagi.

Udah ah, mo cari2 link donlot lagi, hehehe.....

Senin, 15 Oktober 2007

Billy Vs. SNAKEMAN @ Anime Cubed

http://www.animecubed.com/billy/
Sekarang lagi main ini, lucu juga. Buat yg suka berangan-anganjadi ninja, boleh dicoba deh, walopun text based, grafisnya paling cuman berupa icon2 aja.

Jumat, 12 Oktober 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

Idul Fitri ini...tidak mudik seperti biasanya. Ada kewajiban yg harus ditunaikan, ada amanah yang harus dijaga. Rindu ini? Ah, biar tertumpah lewat satu dua tetes air mata di sela telepon. Bahwa cinta, bahwa sayang, bukan monopoli hari ini saja. Hari lain pun sama wajibnya kita menebarkan cinta kasih dan senyuman.

Idul Fitri ini...masih ada Opor Ayam, Sambal Goreng Daging Cincang, dan Lodeh Kacang Panjang, legendaris dan langsung dari tangan mama tersayang, yang pundaknya semakin sering sakit, yang lututnya semakin sering nyeri. Cepat sembuh ya Ma, jangan malas periksa ke dokter, apalagi dokternya kan tidak galak.

Idul Fitri ini...adikku tidak belanja baju baru. Dia bilang sudah beli kemarin-kemarin, jadi buat apa beli lagi sekarang. Ada bangga terselip, karena dia sudah makin mengerti keadaan keluarga, namun justru yang dominan adalah perasaan sedih, karena aku belum mampu membelikannya lagi tahun ini. Yah, walaupun sudah ada dua figur Bezita yang dia idolakan terlihat di kamarnya, sih. Harganya? Belum setara dengan sepotong blouse kualitas menengah. Tapi bagi dia, dua benda itu adalah harta karunnya saat ini, yang saat pecah harus mati-matian dilem dengan teliti.

Idul Fitri ini...papa banyak bolong puasanya. Apa gerangan? Sebabnya tidak lain gejala batu ginjal yang kembali beliau rasakan. Aku pun sempat kelimpungan mencarikan beliau obat sesuai resep, namun alhamdulillah didapatkan juga dengan lengkap. Otomatis, dengan keadaan beliau saat ini, akan sulit rasanya untuk bepergian seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga bertambah lagi alasan untuk ber-Idul Fitri di Malang.

Idul Fitri ini...lagi-lagi aku merasa malu dan sedih. Malu, karena merasa menyia-nyiakan satu bulan penuh ampunan yang disediakan-Nya. Sedih, karena begitu bulan ini berlalu, dimulailah penantian panjang akan kedatangannya kembali tahun depan, diiringi harap-harap cemas, apakah diri ini masih diperkenankan menemuinya kembali atau tidak.

Idul Fitri ini...adalah tahapan kesekian dalam hidupku, tempatku menancapkan tonggak baru, tempatku menentukan tujuan baru, tempatku bermetamorfosis, dan berharap akan kebahagiaan yang sama, yang selalu aku dambakan di sela-sela tarikan nafasku.

Mohon maaf lahir dan batin. Semua salah dan khilaf mohon diikhlaskan, mohon dimaafkan, hingga lapang terasa jalan meniti masa depan. Sebaliknya, aku pun memaafkanmu wahai teman-temanku, semua air mata yang lalu adalah pendewasaanku, semua kemarahanku yang lalu adalah latihan bagi kesabaranku, dan masa depan, adalah wadah bagi kita untuk sekali lagi mengembangkan sayap, sekali lagi memperkuat akar, dan mudah-mudahan usaha kita diterima oleh Allah SWT.

Selamat Idul Fitri

Selasa, 02 Oktober 2007

Aleee....Lunasin Utang - 6 Keanehan Fajar

Hmmm, untung diingetin Ale. Apapun yg terjadi, pokoknya harus dikerjain!

6 Keanehanku:
  1. Lebih suka Tempe Goreng daripada Ayam Goreng. Nah lo, padahal di luar negri harga tempe lebih mahal dari ayam kan? Hmmm, dari mana kebiasaan ini nurun, padahal Mama Papa biasa aja sama tempe, hehehehe.....
  2. Suka bener sama yg namanya Mie Instant. Heran deh, kebiasaan jelek ini dulu bisa menjadi-jadi, sampe sehari bisa 3 kali makan mie instant. Hmm.....suka sih suka, tapi harusnya kan ga segitunya. Jangan ditiru ya, kasian lambung n hati kita.
  3. Masih demen nonton kartun, film2 genre tokusatsu (macam Power Rangers, Kamen Rider), sama baca komik. Sekitar 1,5 tahun ini sih udah ga pernah lagi, tapi sampe masa sblom itu, pasti tiap minggu bangun pagi biar bisa nonton film2 macam Doraemon, Shulato, Born to Cook, macem2 Power Rangers, Ksatria Baja Hitam, de el el sampe jam 11-an, wakakakkaa.....
  4. Kalo ke mall, selalu pengen mampir ke stand mainan, ngeliat mulai dari mobil2an, robot2an, pokoknya semua mainan yg ada pasti diliatin satu2.
  5. Lebih suka pake celana jeans daripada celana dari bahan lainnya, kecuali kalo buat celana pendek, jelasnya pilih yg katun gitu.
  6. Lebih suka nonton J-Dorama daripada film2 barat, apalagi sinetron Indonesia. Aneh gak sih ini?
Aaaahhh, legaaa.....pokoknya udah selesai PR-nya. Aleee, utang lunas yaaa......